Legislator PDI-P: Cara Pelaksanaan MBG Terbaik adalah Pakai Dapur Sekolah
Waktu:2026-07-30 04:57:50 Sumber:TeknologiDibaca (143)

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari PDI-Perjuangan, Charles Honoris, mengatakan sejak awal sudah mendorong agar pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan dapur kantin sekolah, bukan Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Sebetulnya ini sesuatu yang sudah kita sampaikan sejak awal ya, bahwa kalau mau menjalankan program ini dan kita benchmarking dari negara-negara yang berhasil menjalankan program makan bergizi, maka yang terbaik adalah menggunakan model school-based kitchen," kata Charles di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya pemerintah dinilai terlambat menyadari efektivitas konsep berbasis sekolah (school-based kitchen) dan lebih memilih konsep yang sentralistis.
Melalui sistem tersebut, maka potensi terjadinya keracunan menjadi kecil karena rantai distribusinya pendek. Selain itu makanan yang disajikan dapat dipastikan masih dalam keadaan hangat.
"Orangtua murid akan terlibat. Belum lagi dampak terhadap ekonomi lokal juga pasti akan terasa karena sekolah tersebut pasti belanja di pasar sekitar ya kan, dari peternak dekat sekolah dan lain sebagainya," ujarnya.
Charles itu menyayangkan sikap BGN yang keras kepala di awal, hingga menyebabkan jatuhnya puluhan ribu korban keracunan akibat sistem distribusi yang buruk dalam konsep sentralisasi.
Kendati menyambut baik perubahan arah kebijakan ini, Charles justru meragukan eksekusinya di lapangan karena tata kelola infrastruktur dapur yang telanjur semrawut.
"Jadi ya kami tentu senang kalau memang BGN akhirnya memilih opsi itu, tetapi sekali lagi kok menurut saya agak sulit untuk dilakukan. Karena dapur yang ada saja sudah terlalu banyak ya, bagaimana menyelesaikan masalah dapur ini menjadi permasalahan sendiri," ungkapnya.
Prabowo persilakan kaji pelibatan kantin sekolah
Presiden Prabowo Subianto memberikan keleluasan bagi BGN untuk melakukan kajian perbaikan tata kelola program MBG.
Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari mengatakan BGN diizinkan mencari alternatif lain seperti pelibatan kantin sekolah sebagai pengganti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Kan kalau menurut Perpres 115 skema pelaksanaannya hanya melalui SPPG. Pilihannya hanya itu. Baca ya Perpres 115 ya. Pak Presiden pun tadi mengatakan, 'Silakan dikaji kalau ada alternatif yang lain, boleh.' Jadi jangan hanya itu satu-satunya pilihan untuk memberikan skema pelaksanaannya," kata Agustina di Kompleks Istana, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Sebelumnya: Komisi IX DPR Minta BGN Beri Kepastian soal Moratorium Dapur Baru MBG
Selanjutnya: Timur Tengah Terus Memanas Bikin Saudi Borong Senjata AS
Mungkin Anda suka
- Buka LCC 4 Pilar MPR Papua Barat Daya, Anggota MPR Tekankan soal Persatuan
- Harga Ethereum Hari Ini 21 Juli 2026 Naik Ikuti Pasar Kripto
- 3 Aktor Intelektual Culik-Bunuh Kacab Bank Ilham Divonis 10-13 Tahun Penjara
- Satgas PRR Matangkan Persiapan Pembangunan Huntap di Aceh Timur
- Kronologi Anjing Husky Diduga Dibacok hingga Bersimbah Darah di Bekasi
- Mau Nonton Piala Dunia di Rumah, Pasien Puskesmas di Sulbar Kabur Bawa Infus
- Rebutan Air, Dua Petani di Soppeng Terlibat Duel Maut, Satu Tewas
- Raih Opini WTP dari BPK, Mensos Tekankan Tanggung Jawab Uang Rakyat
- Pesona Tanaman Mirip Bunga Bangkai di Bekasi yang Bikin Penasaran Warga