Mengapa Jatuh Cinta Bisa Memicu Rasa Takut dan Cemas?
Waktu:2026-07-30 05:09:27 Sumber:PendidikanDibaca (143)

Mengapa jatuh cinta bisa memicu rasa takut?
Kedekatan emosional dapat membangkitkan trauma masa lalu
Hubungan baru menuntut seseorang untuk terbuka dan menunjukkan sisi rentan dirinya. Bagi orang yang pernah mengalami pengkhianatan, pengabaian emosional, hubungan tidak konsisten, atau ditinggalkan, kedekatan tidak selalu terasa aman.
Meski pasangan baru bersikap baik dan stabil, tubuh dapat bereaksi seolah-olah sedang menghadapi bahaya. Rasa cemas pun muncul ketika hubungan mulai terasa semakin dekat.
“Tubuh mengingat pengalaman masa lalu jauh sebelum pikiran dapat memahaminya. Karena itu, pesan yang terlambat dibalas tiba-tiba terasa sangat sulit ditoleransi, atau sedikit jarak emosional dapat memicu serangan panik,” ujar Dr. Tugnait, seperti disadur Only My Health, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, ketakutan tersebut sering kali bukan sepenuhnya tentang pasangan yang ada di depan mata. Rasa takut bisa berkaitan dengan pengalaman masa lalu dan luka yang pernah dirasakan saat menjalin kedekatan.
Tubuh bisa bereaksi lebih cepat daripada pikiran
Trauma tidak hanya tersimpan sebagai ingatan. Ketika seseorang mulai jatuh cinta, sistem keterikatan emosional yang terbentuk sejak masa awal kehidupan dapat ikut aktif.
Jika sejak dulu cinta diasosiasikan dengan ketidakpastian atau rasa sakit, tubuh dapat segera memasang mode perlindungan.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa gelisah, sangat waspada, atau kewalahan secara emosional tanpa memahami penyebabnya.
“Banyak orang keliru menganggap reaksi fisik yang panik sebagai intuisi atau firasat bahwa ada sesuatu yang salah. Padahal, intuisi sejati terasa tenang dan jelas, sedangkan trauma terasa mendesak, keras, dan digerakkan oleh rasa takut,” jelas Dr. Tugnait.
Karena itu, rasa tidak nyaman dalam hubungan baru perlu diamati dengan lebih hati-hati. Tidak semua kecemasan otomatis menjadi tanda bahwa pasangan tersebut tidak tepat.
Kekacauan emosional bisa disalahartikan sebagai chemistry
Bagi sebagian orang, hubungan yang penuh ketegangan justru terasa familiar. Intensitas emosi kemudian dianggap sebagai tanda cinta yang kuat, sementara kecemasan disalahartikan sebagai gairah atau chemistry.
Dr. Tugnait mengatakan, pola tersebut dapat terbentuk dari pengalaman emosional yang dipelajari sejak masa kanak-kanak.
“Ketika cinta baru tidak mengikuti kekacauan yang sudah familiar, hubungan itu bisa terasa tidak nyaman atau bahkan membosankan,” katanya.
Hubungan yang sehat dan stabil pun dapat terasa aneh karena tidak memicu respons bertahan hidup seperti sebelumnya.
Selain itu, seseorang yang pernah kehilangan dirinya dalam hubungan lama dapat takut mengalami hal serupa.
Ketakutan itu bisa terlihat dari sikap menjaga jarak, ragu, atau tiba-tiba menarik diri saat hubungan mulai serius.
Dengan memahami pola tersebut, seseorang dapat belajar membedakan kedamaian dari kebosanan serta memberi kesempatan pada hubungan yang lebih sehat.
Sebelumnya: Meme "Timpa Teks" Khariq Anhar Bentuk Satire dan Kritik Generasi Muda
Selanjutnya: Prabowo Beri Harga Khusus BBM untuk Nelayan Kapal 30-200 GT
Mungkin Anda suka
- Air PAM di Jakbar Berpotensi Mati 5 Hari Mulai 17 Juli, 55.272 Pelanggan Terdampak
- Kemendikdasmen Ungkap Penyebab SD Minim Murid Baru di Tahun Ajaran 2026/2027
- Dari Rocafonda ke Final Piala Dunia 2026, Nama Lamine Yamal Simpan Kisah Haru
- 3 Zodiak yang Disebut Paling Beruntung pada 21 Juli 2026, Ada Scorpio
- Kebocoran Pipa Gas di Surabaya Tertangani, Pasokan Tetap Normal
- Minum Kopi Setiap Hari? Ahli Gizi Ungkap Manfaat dan Risikonya
- Owen Rahadiyan Mundur dari Jabatan Manajer Persipura Jayapura
- 35 Soal Asesmen Literasi Membaca dan Numerasi MPLS 2026 Jenjang SMP, Lengkap Kunci Jawaban
- AS Naikkan Tarif Impor Brasil Jadi 25 Persen, Sengketa Dagang Memanas