Embun Upas di Dieng Diprediksi Akan Sering Muncul saat Kemarau, BMKG Ungkap Penyebabnya
Waktu:2026-07-30 05:50:40 Sumber:WisataDibaca (143)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena embun beku atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, akan lebih sering muncul selama musim kemarau 2026.
BMKG menilai peluang kemunculan embun upas meningkat karena musim kemarau tahun ini diprakirakan lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Puncak musim kemarau juga diperkirakan terjadi pada Agustus dan kondisi kering masih berlanjut hingga September 2026.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Guruh Tjiptanto mengatakan, suhu nol derajat Celsius atau bahkan minus yang kerap dilaporkan saat embun upas muncul bukan merupakan suhu udara, melainkan suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus.
"Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput," ujarnya, Sabtu (18/7/2026), dilansir dari Antara.
Sifat Musim Kemarau Lebih Kering
Menurut Guruh, peluang munculnya embun upas akan semakin besar apabila sifat musim kemarau lebih kering atau berada di bawah kondisi normal.
"Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya," terangnya.
Ia menjelaskan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan kondisi kering masih berlanjut hingga September.
Oleh karena itu, peluang terbentuknya embun upas diprakirakan meningkat pada periode tersebut.
Guruh mengatakan, musim kemarau 2026 diprakirakan lebih dingin dibandingkan musim kemarau 2025 maupun 2024. Bahkan, karakteristiknya hampir sama dengan musim kemarau 2023 yang juga ditandai kemunculan embun upas di kawasan Dieng.
"Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September 'mbediding' (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa," tandasnya.
BMKG Beri Imbauan untuk Wisatawan
BMKG juga mengimbau wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng agar mempersiapkan diri menghadapi suhu dingin selama musim kemarau.
Guruh menyarankan wisatawan mengenakan pakaian berlapis (layering system), mulai dari pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal tahan angin agar tubuh tetap hangat.
Selain itu, wisatawan disarankan menggunakan kupluk yang menutup telinga, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, dan sepatu yang nyaman, serta memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat.
Bagi wisatawan yang memiliki riwayat asma, sinusitis, atau alergi terhadap udara dingin, BMKG meminta agar membawa obat-obatan pribadi atau inhaler.
Ia juga mengingatkan bahwa udara pegunungan pada musim kemarau sangat kering sehingga pengunjung dianjurkan membawa pelembap kulit dan pelembap bibir untuk mencegah kulit maupun bibir pecah-pecah.
“Bagi wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng, fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan terlihat paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00-06.00 WIB sebelum mencair saat matahari mulai meninggi,” pungkas Guruh.
Sebelumnya: Telur Ceplok atau Dadar, Mana yang Lebih Sehat?
Selanjutnya: Belajar Dulu sebelum Trading, Investor Asal Medan Ini Andalkan Edukasi Pasar Modal dari BNI Sekuritas
Mungkin Anda suka
- Buntut Panjang Ulah Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korea
- Edarkan Tembakau Sintetis via Medsos, 2 Mahasiswa di Jaksel Ditangkap
- Penjahit di Bali Cekcok dengan Pelanggan hingga Singgung SARA, Kini Mina Maaf
- Waka BGN Ungkap Prabowo Minta Seluruh Menteri Terkait Bantu Benahi MBG
- Sindikat Penipuan Online Berkedok Lelang Mobil di Medan Dibongkar, Otak Pelakunya Ternyata Penjaga Kos Korban
- Yusril Sebut Pelimpahan Kasus Febrie Percepat Proses Hukum, Minta Publik Awasi
- Industri Kosmetik Indonesia Tumbuh Pesat, Riset Ilmiah Jadi Kunci Daya Saing
- Usut Korupsi RS Gambut, Kejari Geledah Dinkes Banjar Selama 8 Jam
- Disebut Perlu Beri Kompensasi Gangguan Layanan Air ke Pelanggan, Ini Penjelasan PAM JAYA