Menteri HAM Kerahkan Tim untuk Kawal Penyelesaian Konflik di Adonara
Waktu:2026-09-13 05:45:16 Sumber:OtomotifDibaca (143)

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengirim tim ke Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memantau bentrokan antarwarga yang terjadi di Kecamatan Adonara Timur dan menewaskan tiga orang.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengawal penyelesaian konflik.
“KemenHAM menegaskan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para tokoh masyarakat untuk memastikan proses penyelesaian berlangsung secara damai, menghormati hak asasi manusia, serta memberikan rasa aman bagi seluruh warga terdampak,” ujarnya
dalam keterangan tertulis, Minggu (19/7/2026).
Pigai mengatakan, pemantauan akan dilakukan oleh jajaran Kantor Wilayah Kementerian HAM NTT bersama Staf Khusus Menteri guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi masyarakat pascakonflik.
Hasil pemantauan, kata dia, juga untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan dalam mendukung proses penyelesaian secara damai.
Menurutnya, penyelesaian konflik di Adonara tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan penegakan hukum tapi juga aspek budaya.
“Berdasarkan pengalaman menangani kasus di sana, kami menilai pendekatan melalui solusi budaya jauh lebih efektif daripada pemolisian,” kata Natalius.
Dia berharap konflik di Adonara segera selesai sehingga situasi kembali kondusif.
“KemenHAM RI juga berharap situasi di Adonara segera kondusif sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya secara normal,” imbuhnya.
Sebelumnya, bentrokan antarwarga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga dipicu sengketa batas tanah dan klaim lokasi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT AKP Antonio Cortareal mengatakan, persoalan tersebut menjadi pemicu bentrokan yang kembali pecah pada Sabtu (18/7/2026).
"Masalah batas tanah dan klaim sepihak lokasi tanah (untuk) Kopdes Merah Putih," ujar Antonio saat dihubungi, Minggu (19/7/2026).
Setidaknya ada 3 warga tewas, 5 orang terluka, dan 20 rumah yang terbakar akibat kerusuhan dan bentrok antarwarga.
Antonio belum menjelaskan sejauh mana rencana pembangunan Kopdes Merah Putih di wilayah tersebut.
Ia menyebut, satu peleton personel dari Markas Komando Brimob Maumere telah dikerahkan untuk memperkuat pengamanan di Adonara.
Sebelumnya: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 6 Kurikulum Merdeka Kegiatan 2 tentang Sagu
Selanjutnya: Ketua IDI TTU Diperiksa Polda NTT, Ungkap Intimidasi yang Dilaporkan Dokter Icha Sebelum Meninggal
Mungkin Anda suka
- Viral Pemotor Tak Pakai Helm Nyelonong Masuk Tol Jagorawi
- Harga Emas Hari Ini 19 Juli 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS
- Jadi Prioritas Prabowo, Revitalisasi Madrasah Dikebut
- PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
- Komisi III DPR Pastikan KPK Ikut Supervisi Usut 3 Kasus Korupsi Jerat Febrie
- BMKG Ungkap Penyebab Suhu Dingin di Bandung, Lembang Capai 13,4 Derajat Celcius
- Krisis Air Bersih Melanda 22 Desa di Banjar Kalsel, Sumur Warga Mulai Mengering
- Penjelasan Kortas Tipikor Terkait Kasus yang Jerat Febrie Adriansyah
- Gempa M 5 Terjadi di Wanokaka NTT, Ini Analisis BMKG