Menteri HAM Kerahkan Tim untuk Kawal Penyelesaian Konflik di Adonara
Waktu:2026-07-30 05:03:21 Sumber:OtomotifDibaca (143)

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengirim tim ke Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memantau bentrokan antarwarga yang terjadi di Kecamatan Adonara Timur dan menewaskan tiga orang.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengawal penyelesaian konflik.
“KemenHAM menegaskan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para tokoh masyarakat untuk memastikan proses penyelesaian berlangsung secara damai, menghormati hak asasi manusia, serta memberikan rasa aman bagi seluruh warga terdampak,” ujarnya
dalam keterangan tertulis, Minggu (19/7/2026).
Pigai mengatakan, pemantauan akan dilakukan oleh jajaran Kantor Wilayah Kementerian HAM NTT bersama Staf Khusus Menteri guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi masyarakat pascakonflik.
Hasil pemantauan, kata dia, juga untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan dalam mendukung proses penyelesaian secara damai.
Menurutnya, penyelesaian konflik di Adonara tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan penegakan hukum tapi juga aspek budaya.
“Berdasarkan pengalaman menangani kasus di sana, kami menilai pendekatan melalui solusi budaya jauh lebih efektif daripada pemolisian,” kata Natalius.
Dia berharap konflik di Adonara segera selesai sehingga situasi kembali kondusif.
“KemenHAM RI juga berharap situasi di Adonara segera kondusif sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya secara normal,” imbuhnya.
Sebelumnya, bentrokan antarwarga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga dipicu sengketa batas tanah dan klaim lokasi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT AKP Antonio Cortareal mengatakan, persoalan tersebut menjadi pemicu bentrokan yang kembali pecah pada Sabtu (18/7/2026).
"Masalah batas tanah dan klaim sepihak lokasi tanah (untuk) Kopdes Merah Putih," ujar Antonio saat dihubungi, Minggu (19/7/2026).
Setidaknya ada 3 warga tewas, 5 orang terluka, dan 20 rumah yang terbakar akibat kerusuhan dan bentrok antarwarga.
Antonio belum menjelaskan sejauh mana rencana pembangunan Kopdes Merah Putih di wilayah tersebut.
Ia menyebut, satu peleton personel dari Markas Komando Brimob Maumere telah dikerahkan untuk memperkuat pengamanan di Adonara.
Sebelumnya: 200 Nama Panggilan untuk Pacar yang Romantis, Lucu, dan Tidak Pasaran
Selanjutnya: Polda Sumsel Dirikan Kafe Buruh Presisi, Jadi Ruang Dialog Ketenagakerjaan
Mungkin Anda suka
- AS Kembalikan 2 Arca Buddha Abad ke-8 RI yang Dijarah Douglas Latchford
- Parlemen Israel Bubar, Netanyahu Terancam
- Polisi Ungkap Grup WA 27 Pemerkosa Gadis Sampang Bernama 'Teh Gembul'
- Febrie Adriansyah Jadi Tersangka, Kejagung Pelajari Alat Bukti dari Polri
- Ekonom Nilai Obligasi Pemerintah Masih Menarik, Asal Ada Syarat Ini
- Tabrak Tong Sampah saat Kabur, 2 Maling Motor Diamuk Massa di Jaksel
- Dunia Bergejolak, Korsel Berupaya Raup Untung Besar dari Senjata
- Soal Mahasiswi Gagal Temui Dedi Mulyadi, Pemkab Solok Selatan Siap Bantu Rachmi
- Kemendagri Sebut Kolaborasi Pusat-Daerah Permudah MBR Akses Perumahan